![]() |
| (Doc. Reuters) Donald J Trump,Presiden Amerika serikat |
GEOPOLITIK - Situasi memanas di Selat Hormuz mungkin mereda sejenak imbas dari gencatan senjata. Namun, badai politik justru sedang bergejolak di Washington D.C. Meski Donald Trump telah menyepakati gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran, dukungan politik dalam negeri justru berada di titik paling rendah.
Donald Trump terancam di makzulkan dengan mulai adanya gerakan konkret yang dilatarbelakangi oleh ketidakpuasan rakyat Amerika terhadap gaya kepemimpinannya yang dianggap ugal-ugalan sepanjang krisis militer di Timur Tengah enam minggu terakhir.
Sesumbar Trump yang akan melenyapkan peradaban Iran dan mengembalikan mereka ke zaman batu akhirnya melunak. Lawan politiknya menganggap hal itu sebagai ketidakstabilan mental yang bisa membahayakan keamanan nasional.
Di aktori tokoh seperti John Larson dan dukungan kuat dari barisan progresif seperti Alexandria Ocasio-Cortez, pasal pemakzulan disusun dengan fokus penyalahgunaan wewenang dan ketidakmampuan eksekutif menjalankan tugasnya. Bahkan, wacana penggunaan Amandemen ke-25 mulai menguat di kalangan elit politik Amerika Serikat.
Di sisi lain, publik Amerika mulai merasakan dampak dari ambigunya kebijakan Trump dengan melonjaknya harga bahan pokok, kenaikan harga BBM yang membuat perekonomian menjadi tidak stabil.
Meski harga minyak dunia sempat menunjukkan tren positif sesaat setelah pembukaan Selat Hormuz, sentimen terhadap pemerintahan Trump tak terbendung.
Demonstrasi yang menuntut mundurnya Trump bergemuruh di jalanan, menjadi sinyal bahwa gencatan senjata di Timur Tengah sama sekali tidak mempengaruhi sentimen publik.
.jpg)