![]() |
Galih Syahbatul Arkom Seorang Jurnalis Magang |
Logika pasar tak lagi memposisikan mahasiswa sebagai subjek intelektual merdeka, melainkan seabagi unit produksi yang sesegera mungkin diselesaikan. Kualitas "produk" itu tidak lagi diukur dari seberapa dalam intelektualnya dan integritas moralnya, melainkan seberapa cepat ia lulus dan seberapa presisi mereka dapat dipasarkan ke sekrup industri.
Saat orientasi universitas mulai terdikte kebutuhan pasar, ilmu pengetahuan mengalami pergeseran makna. Mata kuliah yang membangun karakter dan nalar kritis mulai dipangkas, sebab tidak memiliki nilai jual yang menjanjikan. Tak ayal apabila kita banyak meluluskan sarjana muda yang lihai mengoperasikan sistem namun gagap saat mempertanyakan ketidakadilan dalam sistem tersebut.
Namun, kita tidak boleh menutup mata terhadap realitas di lapangan. Kritik terhadap "pabrikasi" pendidikan ini bukan berarti menjadikan kita naif terhadap kebutuhan hidup pasca menjadi sarjana. Kita sama menyadari bahwa ijazah sarjana adalah tumpuan harapan bagi banyak keluarga untuk memperbaiki strata sosial dan ekonomi. Sebab itu, menuntut mahasiswa untuk berpikir idealis tanpa membekali mereka dengan keahlian praktis ialah bentuk ketidakadilan sosial dan terkesan egois. Para sarjana itu juga membutuhkan karier yang layak untuk membayar investasi waktu dan biaya yang mereka korbankan selama masa kuliah.
Persoalannya, jika universitas hanya fokus untuk menjadi parbik tenaga kerja, menjadi rahim bagi para proletariat dan hanya membekali kemampuan praktis tanpa nalar kritis, maka sebenarnya mereka sedang merendahkan derajat dan menjerumuskan mahasis menjadi produk yang mudah diganti dan rentan terkena gelombang efisiensi tertentu.
Universitas tidak boleh memaksa mahasiswa untuk memilih antara "idealis yang lapar" atau "praktisi yang tak bernalar". Universitas sebagai kawah candradimuka harus mampu menyatukan keduanya. Universitas memiliki kewajiban menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan zaman tanpa harus mengorbankan jati dirinya. Ciri khas intelektual kritis sangat berharga apabila ditukarkan dengan sekadar kemauan industri. Pendidikan tidak boleh dipaksa memilih antara menjadi "idealis yang lapar" atau "praktisi yang tak bernalar". Intelektual kritis nerupakan investasi jangka panjang, sedangkan keterampilan teknis saja berpotensi tergerus dengan kemajuan teknologi, kemampuan analisis dan adaptasi merupakan modal yang membuat lulusan memiliki bargaining power tinggi di pasar kerja.
Apabila universitas hanya dibiarkan menjadi pabrik kelompok proletariat, maka peradaban yang sedang sama-sama kita usahakan hanya akan menjadi peradaban yang rapuh. Kita akan memiliki anyak ahli teknis, namun krisis manusia yang memiliki integritas.
Bukankah sudah saatnya kita mulai mengembalikan universitas pada khitahnya? Universitas harus tetap menjadi laboratorium peradaban dimana api dilaketika terus menyala, sekaligus menjadi jembatan penyambung yang kokoh menuju kemandirian ekonomi. Pendidikan yang berhasil ialah yang mampu memanusiakan manusia, membebaskan pikirannya agar merdeka, serta menguatkan tangannya agar mampu menjawab kebutuhan hidup di dunia nyata. Sebab, ijazah harus menjadi simbol kebebasan berpikir, bukan sekadar sertifikat layak pakai untuk memenuhi komoditas pasar.
Oleh: Galih Syahbatul Arkom
