![]() |
| (Dok.Tazel/Pexels) Ilustrasi Pasar Tradisional |
EKONOMI - Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) proyeksikan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 tidak akan seperti yang diharapkan.
Dalam laporan Economic Outlook edisi terbaru, OECD memprediksi ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 4,8% pada 2026. Hal itu menunjukkan meningkatnya ketegangan global yang terus membayangi pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang.
“Pertumbuhan global diperkirakan tetap moderat di tengah ketidakpastian yang tinggi,” tulis OECD dalam laporannya pada (31/3/2026).
Hal itu berbeda dengan ekspektasi sebelumnya yang cenderung optimis. Ketegangan geopolitik, fluktuasi harga energi, hingga perlambatan perdagangan dunia disebut sebagai risiko utama.
OECD menekankan bahwa tekanan itu tidak hanya berdampak pada ekspor, namun juga berpotensi memengaruhi investasi dan konsumsi domestik.
“Risiko terhadap prospek ekonomi tetap condong ke bawah, terutama jika ketegangan geopolitik meningkat,” lanjut laporan tersebut.
Meski begitu, perekonomian Indonesia masih relatif kuat dibandingkan rata-rata global. Pertumbuhan ekonomi nasional tetap berada di atas sejumlah negara besar, meskipun belum mencapai target pemerintah yang berada di kisaran 5% atau lebih.
Dengan kondisi seperti ini, penguatan sektor domestik dinilai menjadi kunci utama. Konsumsi rumah tangga diharapkan dapat menjaga momentum pertumbuhan agar tidak semakin melambat.
Ke depan, ekonomi Indonesia akan sangat dipengaruhi oleh dinamika global. Apabila tekanan eksternal mereda, peluang untuk kembali ke jalur pertumbuhan yang lebih tinggi masih terbuka.(hk1).
~2.jpg)